
You are not logged in.


Jakarta, 6 Februari 2006 - Tanggal 15 Januari 2006 menjadi momentum penting bagi PT. BPR Antar Parama di Kraksaan, Jawa Timur. Faustinus Budyanto (Direktur BPR Antar Parama) dan Muhammad Iqbal (Direktur EPN-Consulting) meluncurkan m-BPR, suatu layanan transaksi keuangan yang merupakan konvergensi Mobile Teknologi dan Internet. Merupakan suatu terobosan besar bagi BPR Antar Parama pada saat merilis produk layanan ini. m-BPR merupakan produk Mobile Teknologi dari EPN-Consulting untuk kalangan perbankan. Launching tersebut juga dihadiri oleh sejumlah media massa lokal dan Nasional. Dengan penerapan ini, maka BPR Antar Parama merupakan Bank Perkreditan Rakyat pertama di Indonesia yang menerapkan SMS-Banking dalam pelayanannya. Berikut adalah hasil liputan Majalah Gatra edisi 7 Februari 2007.
*SMS BANKING TANPA REKENING*
“Sejumlah BPR dan koperasi Syariah bergabung dalam satu entitas mobile banking. Transfer uang ke mana saja cukup dengan SMS. Banyak peluang terbuka.”
Terletak di jalur utama kota Kecamatan Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Antar Parama tidak kalah pamor dengan Kantor Cabang Pembantu BCA yang da di sebelahnya. Tiap hari, nasabah datang dan pergi tanpa putus ke kantor BPR ini. “Nasabah kai lebih dari 10.000 orang,” ujar Faustinus “Budi” Budyanto, 34 tahun, Direktur Utama BPR Antar Parama.
Dengan nasabah besar dan aset yang kini Rp. 65 Milyar, BPR Antar Parama adalah simpul ekonomi penting di Kraksaan, Kecamatan penghasil mangga Probolinggo yang muanis itu. Toh, Budi tak puas dengan bisnis simpan-pinjam yang dioperasikan selama ini. Begitu datang opsi mobile banking yang ditawarkan PT. Elang Persada Nusantara dari Jakarta, sebagai penyedia teknologinya, ia kontan menyambarnya. Apalagi, ia tidak harus membayar biaya infrastruktur.
Acara peluncuran jasa mobile banking ini dilakukan pertengahan Januari lalu di Kraksaan. Tak hanya BPR Antar Parama, ada enam BPR lain di Jawa Timur, antara lain dari Banyuwangi, Lumajang, dan Situbondo. “Kini ketujuh BPR itu sudah connect,” kata Muhammad Iqbal, Direktur Utama PT. Elang Persada. Bahkan, sejak pekan lalu, ketujuh BPR di Jawa Timur itu sudah online dengan delapan unit BMT (baitul Mal Wat Tamwil), sejenis koperasi syariah, di Jawa Barat.
Mobile banking yang dikembangkan Elang Persada untuk BPR dan BMT ini berbeda dari yang ada di bank-bank umum. Transfer, misalnya, bukan hanya antar rekening, melainkan bisa juga ke pihak yang bukan nasabah. “Modalnya Cuma handphone. Segala merek HP bisa dipakai,” Iqbal menambahkan. Jadi, saat ini, menurut Iqbal pula, nasabah BPR Kraksaan bisa mengirim uang ke Bogor vis layanan ini. “Pencairannya di counter BMT di Bogor yang sudah connect,” katanya.
Tentu ada kerumitan dalam soal kliring. Di situlah Elang Persada menggandeng PT. Finnet (Financial Networking) Indonesia, perusahaan patungan PT. Telkom dan Yayasan Dana Pensiun Karyawan BI, untuk urusan switching. “Jadi, teknologinya aman,” ujar Iqbal. Ia menjamin tidak akan terjadi nasabah mentransfer dana melebihi saldonya, “Sistem pengamannya bisa dijamin,” kata pemuda 30 tahun itu. Segala celah penyalahgunaan sudah diantisipasi.
Kini nasabah BPR Antar Parama yang berlogo kunang-kunang itu sudah mencoba memainkan mobile banking. “Umumnya baru sebatas transfer uang atau ngecek saldo,” tutur F. Budyanto. Nasabahnya pun tak dibebani biaya besar. “Untuk ngecek saldo Cuma Rp. 500,”” katanya. Transfer uang antara Rp. 2,000 dan Rp. 3,000. “Tergantung ke mana transfernya,” kata Budi. Maksudnya, sesama nasabah lebih murah ketimbang ke orang luar. Budi kini sibuk memberikan edukasi produk barunya. Ia mencetak brosur, selain menggelar pertemuan dengan nasabah.
Tidak sulit mengoperasikan mobile banking berbasis SMS ini. Untuk kirim uang, misalnya, dengan handphone (nomornya sudah dicatat dalam sistem komputer), nasabah tinggal mengirim SMS ke nomor khusus 08111218xx. Yang ditulis adalah besarnya uang transfer, nama yang dituju (dengan nomor rekening serta HPnya). Lantas, setelah mengisi PIN, SMS dikirim ke nomor tadi. Rupanya, nomor ini membawa SMS masuk ke server PT. Elang Persada.
Dalam server inilah segala hal mengenai berita SMS ini dicek, termasuk saldo yang ada. Di situlah switching Finnet berperan. Jika segalanya oke, dana tadi langsung dikirim ke alamat yang dituju.
Manfaat mobile banking ini tentu lebih besar dari sekedar transfer untuk kirim uang dan bayar tagihan listrik atau telepon. Gari Kraksaan, Budi mematok rencana mendayagunakan lebih jauh: memberi info pasar, mulai kurs mata uang asing hingga harga-harga komoditas. “Tapi ini belum kami sosialisasikan. Bertahap. Sekarang yang paling diperlukan adalah nasabah,” tutur Budi, yang dalam kurun waktu dua tahun enam bulan jabatannya di BPR Antar Parama berhasil mengatrol aset dari Rp. 9 milyar menjadi Rp. 65 milyar.
Ke depan, Budi ingin membawa mobile banking ini ke Arab atau Malaysia, tempat para TKI Probolinggo banyak mengadu nasib. Bermodal SMS Banking ini, ia ingin BPR-nya bisa melayani transfer uang yang volumenya cukup besar. Ia tidak perlu membuat kantor cabang. Cukup agen di kantong-kantong TKI, dan itu dimungkinkan oleh peraturan perbankan.
Bagi jaringan BMT yang masuk dalam sistem ini, ada daya guna sangat khas. Sesama BMT bisa melihat saldo masing-masing. Caranya, cukup dengan mengirim SMS, menanyakan posisi BMT yang lain. “Peraturan yang ada memungkinkan untuk saling melihat,” kata Iqbal. Gunanya, menurut dia, adalah kerja sama. Kalau ada proyek yang menjanjikan tapi berbiaya relatif besar, satu BMT bisa mengajak yang lain. “Agar tahu siapa yang harus digandeng, informasi saldo itu penting,” ujarnya.
Iqbal tentu tidak ingin berhenti menghubungkan tujuh BPR di Jawa Timur, delapan BMT di Jawa Barat, dan satu lainnya di Jawa Tengah. Saat ini, katanya pula, di Indonesia ada 3.000 BPR dan 2.200 koperasi syariah macam BMT. Ia mengaku telah menjalin komitmen dengan 118 BMT lainnya di Jawa Barat, jaringan BPR Gebuminang, dan baitul qirad (sejenis BMT) di Nangroe Aceh Darussalam.
Ke-17 BMT di Jawa Barat itu, menurut Iqbal, akan masuk ke sistem jaringannya dalam beberapa pekan ke depan. BPR Gebuminang dan baitul qirad di Banda Aceh juga menyatakan siap online. “Kami melihat mereka itu sebagai entitas ekonomi yang sangat tinggi,” katanya. Dalam waktu dekat, memang dia tidak menargetkan laba dari bagi hasil layanan itu. Tapi, ke depan, ia yakin, jasa mobile banking kelas menengah bawah ini bisa menjadi bisnis besar.
(GATRA, edisi 7 Februari 2007, Putut Trihusodo & Arief Sujatmoko)
Offline